Kafapet-unsoed.com, Jakarta. Bertempat di kediaman Haiban Hadjid acara kajian perdana Kaunsoed, berbarengan dengan kajian ke 74 Kafapet Jabodetabeksuci dihadiri lebih dari 47 alumni. akhirnya terlaksana yang pertama dihadiri sebanyak 47 orang dari keluarga Alumni pertanian, Hukum, Ekonomi, Biologi dan peternakan. Acara berlangsung berlangsung penuh kekeluargaan dan keberkahan.
![]() |
Tuan Rumah Pengajian, Haiban Hadjid |
Acara dipandu oleh Nadam Subekti, Ketua Kerohanian Kafapet D.I.J. kajian dibuka dengan pembacaan ayat suci Al Quran, kemudian sambutan dari Haiban Hadjid selaku tuan rumah yang merasakan kangen akan kegiatan kajian dari Alumni Unsoed.
![]() |
Ketua Umum Kaunsoed, Abdul Kholik |
Ketua Umum Kaunsoed, Abdul Kholik pada kesempatan ini menyebutkan tali silaturahmi menjadi sebuah keberkahan ditambah majelis ilmu sebagai ladang amal untuk semua. Kajian perdana ini sebagai tindak lanjut pertemuan kajian ke-73 di Sekolah Alam Bantargebang Bekasi, Abdul Kholik sangat menginginkan kebaikan teman-teman kafapet sebagai embrio untuk kajian kerohanian di Kaunsoed.
![]() |
Ustad Daniel Barkah |
Acara kajian dibawakan oleh ustad Daniel Barkah dengan tema “Akal adalah kenikmatan yang harus kita syukuri” setelah nikmat Agama dan kesehatan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebutkan tiga kelompok yang amal baik dan buruknya tidak dicatat karena kondisi akal mereka. Hadis ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
1. Orang yang sedang tidur sampai ia bangun.
2. Anak kecil sampai ia balig (dewasa).
3. Orang yang gila sampai ia berakal kembali.
Hadis ini menunjukkan bahwa tanggung jawab syariat tidak berlaku bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan akal yang sempurna pada saat tertentu. Akal mempunyai proses kematangan usia 40tahun sering dianggap sebagai puncak kematangan akal dan emosional seseorang. Dalam Islam, usia ini disebutkan dalam Surat Al-Ahqaf ayat 15, yang menekankan pentingnya bersyukur dan berbuat baik kepada orang tua saat mencapai usia tersebut.
Secara ilmiah, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada usia 40 tahun, struktur otak manusia mengalami penyempurnaan. Tulang rawan pada tengkorak menjadi lebih keras dan sempurna, yang mempengaruhi inti akal di otak. Ini berarti kemampuan berpikir logis, reflektif, dan pengambilan keputusan seseorang mencapai puncaknya pada usia ini. Selain itu, usia 40 tahun juga sering dikaitkan dengan peningkatan kemampuan untuk mengelola emosi dan pengalaman hidup, yang membantu dalam menyelesaikan masalah yang kompleks dan ambigu.
Ustad Daniel menjelaskan Allah memberikan kebebasan akal untuk menentukan seperti apa, dalam surat Al-Kahfi ayat 29 berbunyi :
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ
وَاِنْ يَّسْتَغِيْثُوْا يُغَاثُوْا بِمَاۤءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِى الْوُجُوْهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ ۚ وَسَاۤءَتْ مُرْتَفَقًا
Artinya: "Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek."
1 Komentar
Alhamdulillah. Saya bisa hadir kemarin siang itu. Selanjutnya bulan depan kajian di Cianjur. Semoga bisa ikut. Tapi pengin cari nunutan alias "nebeng" 🙂
BalasHapusJika kesulitan posting komentar via hp harap menggunakan komputer